Mengenal Pengobatan Herbal

Ramuan tradisional atau pengobatan herbal di Indonesia berawal dari kebutuhan persediaan obat yang sangat mendesak pada zaman pendudukan Jepang, kalangan medis mulai melakukan banyak penelitian dan uji klinis terhadap banyak tanaman obat, terutama tanaman obat asli Indonesia. Perkembangan teknologi untuk penelitian–penelitian tanaman obat dari kalangan medis banyak yang menganjurkan untuk menggunakan pengobatan dengan ramuan tradisional.Tak jarang, para dokter mengombinasikan pengobatan modern dengan pengobatan yang menggunakan ramuan tradisonal.

 

 

Di Indonesia dikenal beragam pengobatan herbal, misalnya mahkota dewa, mengkudu, buah merah, kunir putih, sambungnyawa, tapak dara, bawang putih, benalu teh, dan sebagainya. Ada yang sudah dikemas baik dalam bentuk kapsul, tablet, maupun sirup, ada yang masih dalam bentuk bahan segar atau kering yang harus direbus dulu.

 

Selain menggunakan secara langsung bagian-bagian tanaman herbal untuk pengobatan luar (dioles, dikompres, dll) ataupun pengobatan dalam (dimakan, diminum) dalam menyembuhkan suatu penyakit, obat herbal juga tersedia dalam bentuk racikan atau ramuan siap pakai, misalnya jamu dan obat kemasan lainnya. Bahkan sekarang sudah banyak diproduksi obat herbal skala industri, misalnya kita kenal PT. Sidomuncul, Nyonya Meneer, dan lain-lain.


Peningkatan penggunaan obat dari tanaman berkhasiat akhir-akhir ini menunjukan bahwa pengobatan ini semakin dipercaya akan manfaatnya, selain itu adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu di antaranya kanker serta semakin luas akses informasi mengenai obat herbal di seluruh dunia.

 

Bagaimana tanaman bisa memberikan efek penyembuhan atau perbaikan bagi kesehatan manusia? Di dalam tanaman terkandung banyak zat kimia, diantaranya ada yang disebut phytonutrient (fitonutrisi) atau phytochemical (fitokimia). Phytonutrient adalah zat kimia aktif pada tanaman yang berperan dalam memberikan warna, rasa, pertahanan alami terhadap penyakit. Phytonutrient dapat berupa hasil dari proses fotosintesis atau merupakan zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan terhadap serangan oleh serangga dan pemangsa lainnya. Komponen aktif ini biasanya merupakan kelompok-kelompok yang saling melindungi dan memiliki efek penyembuhan satu sama lainnya.

 

Tidak seperti zat nutrisi tradisional (protein, lemak, vitamin, mineral), phytonutrient digolongkan sebagai zat tidak "penting" atau tidak essensial bagi kehidupan tanaman, sehingga disebut juga dengan istilah fitokimia (phytochemical). Phyto dalam bahasa Yunani artinya tanaman.

 

Setiap tanaman memiliki kandungan fitonutrisi yang berbeda, sehingga efek penyembuhannya yang dimilikinya pun berbeda-beda. Berikut adalah beberapa zat phytonutrient yang terdapat dalam tanaman:

Karbohidrat

Sumber energi utama dan penopang struktur tanaman. Pada beberapa tumbuhan, seperti coltsfood dan marshmallow, selulosa berkombinasi dengan bahan kimia lainnya untuk membentuk getah, sebuah zat bergetah, yang jika tertelan oleh manusia, memiliki efek menenangkan dan melindungi jaringan internal yang mengalami iritasi atau peradangan.

Minyak lemak

Campuran trigliserida, gliserol, dan asam lemak. Efek katarsis minyak jarak, berguna untuk mengatasi sembelit dan kejang pada anak.

Essential oils
Menguap ketika dipanaskan; dalam kombinasi tertentu akan membuat tanaman memiliki bau tertentu.
Bawang putih adalah antiseptik, thyme adalah ekspektoran, chamomile dapat mengurangi distensi gas dan nyeri akibat kejang usus.


Tannin

Bersifat antiseptik. Membentuk lapisan pelindung pada kulit dan selaput lendir. Berguna dalam perawatan luka bakar dan peradangan lokal, digunakan untuk infeksi mata dan mulut.

Bitter Principles

Kelompok bahan kimia yang memiliki rasa yang sangat pahit. Dapat digunakan untuk merangsang nafsu makan dan aliran cairan pencernaan, merangsang aktivitas hati dan aliran empedu, beberapa bertindak sebagai diuretik. Dikenal sebagai tonik.

Alkaloid
Kelompok senyawa yang mengandung nitrogen, bersifat terapeutik: analgesik, anestetik lokal, menenangkan, antispasmodic, jantung konstriksi, dan / atau halusinasi; bersifat racun dalam kadar tertentu. Mempengaruhi baik saraf dan sistem sirkulasi. Yang dikenal antara lain atropin, kafein, kokain, morfin, nikotin, dan kina.


Isoflavon
Senyawa mirip dengan estrogen pada manusia dan terutama ditemukan dalam produk kedelai.
Dapat mencegah kanker prostat, kanker payudara, dan kanker lain yang berhubungan dengan hormon, menurunkan kolesterol, mengurangi gejala menopause, mencegah osteoporosis dengan meningkatkan kepadatan tulang.


Karotenoid

  • Berwarna kuning, oranye, atau merah pada sayuran atau buah, dikonversi menjadi vitamin A di dalam hati. Misal: wortel.
  • Beta-karoten dapat membantu dalam pencegahan kanker dengan menetralisir radikal bebas. Digunakan bersama dengan "tabir surya", memberikan pencegahan yang lebih baik dari sengatan matahari dan kerusakan kulit. Misalnya: sayuran berdaun hijau atau kuning, brokoli, labu besar.
  • Lycopene dapat mencegah kanker prostat dan mengurangi risiko serangan jantung. Misalnya: tomat, angggur merah, semangka.
  • Lutein berguna dalam pencegahan degenerasi macular, penyebab utama kebutaan pada orang tua. Misalnya: bayam.

 

Glikosida

  • Zat organik kompleks; beberapa merupakan herbal yang sangat potensial dan beberapa lagi dikenal sangat beracun.
  • Glikosida jantung termasuk foxglove dan lily of the valley, yang mempengaruhi kontraksi jantung dan digunakan untuk memperbaiki aritmia.
  • Mustar glikosida digunakan secara eksternal dan memiliki efek antiseptik dan analgesik.
  • Cyanogenic glycosides melepaskan hidrogen sianida ketika dikunyah atau dicerna mengakibatkan antispasmodic, pencahar, dan efek obat penenang. Ditemukan pada beberapa kacang-kacangan, sayuran, dan benih dari beberapa buah-buahan. Hidrogen sianida, kadang-kadang disebut prussic asam, sangat beracun.
  • Phenolic glikosida, termasuk turunan salisilat, yang terdapat di tanaman willow dan tanaman lainnya merupakan bahan utama dalam aspirin-antiseptik, analgesik, dan memiliki efek anti inflammatory.
  • Glikosida Coumarine memperkuat dinding kapiler dan bertindak sebagai antikoagulan.
  • Anthraquinones glikosida digunakan sebagai pencahar.

 

Zat-zat phytonutrients yang lain misalnya: Inositol Phosphates (Phytates), Lignans (Phytoestrogens), Isothiocyanates dan Indoles, Phenols dan Cyclic Compounds, Saponins Sulfides dan Thiols, Terpenes dan lain-lain.

Phytonutrients ini mampu memberikan efek perlindungan atau perbaikan kesehatan bagi tubuh manusia melalui cara, antara lain:

  • Berperan sebagai anti oksidan,
  • Memperbaiki respon sistem immune tubuh,
  • Memperbaiki komunikasi antar sel tubuh,
  • Mengubah metabolisme estrogen,
  • Merubah ke vitamin A (beta-carotene dimetabolisme ke vitamin A),
  • Dapat membunuh sel kanker (apoptosis),
  • Memperbaikin DNA yang rusak akibat asap rokok atau terpapar racun lainnya,
  • Menetralisir racun melalui pengaktifan cytocrome P450 dan sistem enzim fase II.

 

Antioksidan
Antioksidan adalah kelompok vitamin, mineral, enzim, dan rempah-rempah yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas. Ketika di dalam tubuh terjadi proses normal, di mana oksigen digunakan untuk menyediakan bahan bakar sel, beberapa dari molekul oksigen kehilangan salah satu elektron. Ketika hal itu terjadi, molekul oksigen yang sebelumnya bersifat stabil itu berubah menjadi radikal bebas yang berbahaya. Molekul ini kemudian mencoba untuk menstabilkan diri mereka sendiri dengan mencuri elektron dari molekul lain yang stabil, sehingga hal ini bisa merusak mereka dan menciptakan lebih banyak lagi radikal bebas.


Karena radikal bebas mudah bereaksi dengan senyawa lain, mereka memiliki efek yang bisa menimbulkan gangguan dalam tubuh secara signifikan (merubah proses normal dari, misalnya: metabolisme, respirasi, reproduksi, dll). Banyak faktor yang dapat menyebabkan produksi radikal bebas, internal maupun eksternal. Sumber-sumber radikal bebas dari dalam tubuh, selain proses konsumsi oksigen, termasuk juga stres secara emosional dan latihan berat. Sumber eksternal antara lain polusi udara, asap rokok, polusi pabrik dan knalpot mobil, asap, pestisida, herbisida, kontaminasi makanan, kemoterapi, dan radiasi. Semua faktor itu bisa menyebabkan overproduksi radikal bebas.


Karena radikal bebas mudah bereaksi dengan senyawa lain, mereka memiliki efek yang bisa menimbulkan gangguan dalam tubuh secara signifikan (merubah proses normal dari, misalnya: metabolisme, respirasi, reproduksi, dll). Banyak faktor yang dapat menyebabkan produksi radikal bebas, internal maupun eksternal. Sumber-sumber radikal bebas dari dalam tubuh, selain proses konsumsi oksigen, termasuk juga stres secara emosional dan latihan berat. Sumber eksternal antara lain polusi udara, asap rokok, polusi pabrik dan knalpot mobil, asap, pestisida, herbisida, kontaminasi makanan, kemoterapi, dan radiasi. Semua faktor itu bisa menyebabkan overproduksi radikal bebas.


Kerusakan oksidatif dapat dicontohkan dengan menggigit sebuah apel. Setelah beberapa menit, bagian yang terbuka menjadi cokelat. Sayangnya, kita tidak bisa "melihat" kerusakan yang dilakukan oleh radikal bebas dalam tubuh kita. Kelebihan radikal bebas, ikut bertanggung jawab atas efek penuaan dini, kanker dan terlibat dalam berbagai kondisi kronis dan degeneratif, termasuk radang sendi dan penyakit jantung.


Radikal bebas dapat merusak membran sel serta merusak dan merubah DNA. Merubah zat kimia dalam tubuh dapat meningkatkan resiko terkena kanker serta merusak dan menonaktifkan protein.


Secara normal, radikal bebas biasanya dikendalikan oeh enzim yang diproduksi untuk mencari, mengambil dan menetralisir radikal bebas berbahaya. Seiring dengan bertambahnya usia, produksi enzim ini semakin sedikit. Hal ini bisa diatasi dengan mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung antioksidan seperti vitamin C, vitamin E, karotenoid, mineral selenium, dan hormon melatonin.


Herbal yang mempunyai sifat antioksidan diantaranya bilberry, ginkgo, ekstrak biji anggur, teh hijau, dan dll. Buah-buahan dan sayuran juga merupakan sumber utama antioksidan, bahkan sekarang telah tersedia dalam bentuk suplemen.


Sinergi
Bahan kimia aktif yang terdapat dalam tanaman akan bekerja secara sinergi, manfaat dari dua atau lebih zat kimia aktif ini dapat memiliki efek penyembuhan yang mungkin tidak bisa dicapai jika zat kimia itu bekerja sendirian saja. Kebanyakan obat-obatan herbal bergantung pada hubungan timbal balik yang kompleks dari banyak kandungan zat kimia aktif untuk menghasilkan efek terapeutik, dan efek ini bisa hilang ketika bahan kimia itu dimurnikan dan diisolasi.


Sebagai contoh, sejumlah senyawa antimikroba ditemukan dalam minyak pohon teh, namun penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu pun dari senyawa itu yang memiliki kemampuan melawan kuman secara sendirian. Diperlukan interaksi minimal delapan bahan kimia yang berbeda untuk menghasilkan efek penyembuhannya. Kompleksitas ini membuat hampir tidak mungkin bagi mikroba penyebab infeksi untuk membuat sistem pertahanan terhadap minyak pohon teh. Salah satu masalah utama dengan antibiotik konvensional adalah adanya kemampuan dari banyak mikroba untuk mengembangkan mengembangkan sistem perlawanan, yang dapat menyebabkan obat menjadi tidak berguna.


Sistem pertahanan dengan antioksidan juga bekerja secara sinergi. Sebagai contoh, sejumlah karotenoid yang bekerja bersama-sama memiliki sifat antikanker lebih tinggi daripada satu karotenoid. Jadi beta-karoten suplemen mungkin tidak memberikan perlindungan yang sama dengan makan buah dan sayuran yang kaya akan beta-karoten, karena zat-zat lain yang terdapat dalam buah dan sayuran itu dapat membantu tubuh untuk menyerap manfaat karotenoid serta mengurangi efek samping yang mungkin timbul.